Berguru WordPress Melalui Buku & Guru

Metode belajar otodidak menggunakan buku, ternyata masih mempunyai kelemahan, yaitu saya cenderung melakukan praktek banking education, bukan praktikal learning, sehingga tak kunjung menghasilkan karya yang bisa dikritisi dan disempurnakan lebih jauh lagi. Disinilah saya sadar pentingnya, berguru kepada orang lain, untuk memperdalam kemampuan dan ketrampilan, sehingga lebih aplikatif dalam dunia profesional.

Seperti yang disampaikan oleh Mas Vandy, sebagai akademisi, sebaiknya kita punya tabungan draft tulisan, pun sebagai fasilitator sebaiknya kita rajin mendokumentasikan kegiatan yang pemberdayaan dan pengorganisasian masyarakat yang selama dilakukan untuk dapat meninggalkan jejak pengabdian masyarakat.

Tulis semua knowledge dan pengalaman yang dipelajari selama 3 tahun berjalan menjadi Community Development Officer (CDO), hal ini nantinya juga akan membantu kamu dalam mengingat strategi pemberdayaan masyarakat yang sesuai dengan kondisi masyarakat binaan, yap barangkali terkait hal ini, aku coba tanyakan ke Isa untuk menyusun peer review, kira-kira apa saja yang terlewatkan dari upaya belajar saya.

sekian, Giwangan Kamis 12 November 2020.

Bawa Laptop 2 ke Marangkayu

Besok rencana berangkat ke Marangkayu rencana saya akan bawa laptop untuk memaksimalkan kinerja saya selaku pendamping (fasilitator), satu digunakan untuk menampilkan referensi, satunya digunakan untuk menulis draft naskah.

Hanya tinggal nunggu battery baru untuk Lenovo S410p. Coba besok test menggunakan batch script, laptop Lenovo tidak perlu dipasang aplikasi windows. Apalagi harus dipasang dualboot. Cukup WPS Office dan Libre Office saja. Supaya kemampuan saya dalam mengoperasikan Linux tidak luntur.

Dalam dua bulan kedepan pokoknya harus menghasilkan karya ebook tentang GNU/Linux. Sebagai bahan dokumentasi proses belajar. Sebelum melangkah ke kursus coding. Perlukah saya belajar C++ atau QT untuk menyempurkan proses belajar WINE ? Ataukah cukup belajar Java dan Python saja ? Yang paling rasional adalah dengan membentuk tim developer, untuk mengembangkan perangkat lunak yang bermanfaat di sektor pendidikan.

bersambung ….

 

Jurnal Kegiatan Comdev

Saya rasa tidak perlu melakukan reinventing the wheel, sebagai tools untuk mencatat pelbagai pengalaman saya dalam kerja mencatat sebagai seorang comdev officer (Fasilitator). Cukup manfaatkan apa yang sudah ada, di internet khususnya sudah banyak platform yang disediakan secara bebas dan gratis (free as free beer).

Jadi ingat saya dengan dengan tulisan Pak Malsasa, dia benar-benar tekun memanfaatkan media mikro blog wordpress untuk berbisnis. Strategi yang diterapkan adalah dengan mempunyai beberapa blog sekaligus yang digunakan untuk mempromosikan usaha dan gagasan nya, yang kini menghantarkan Kang Malsasa, menjadi tentor Telegram GNU/Linux nomer wahid di Indonesia.

Saya rasa arah dari blog ini, akan lebih saya eksplore kesana, dimana posting yang saya publish, merupakan jurnal dari pengalaman-pengalaman pendampingan masyarakat saya yang saya torehkan. Saya rasa banyak kisah menarik yang bisa saya bagikan kepada khalayak umum. Ini juga saya fungsikan sebagai media untuk mengingat.

Perlu tambahan gear untuk merekam Audio, yang bisa saya pakai untuk membantu mencatat meeting dan rekaman audio suara untuk sebagai bahan referensi guna menunjang konten tulisan. Beli yang murah aja 2 biji, satu Sony harga Rp. 500.000,- satunya beli sound recorder versi Tiongkok yang seharga Rp. 150 ribuan buat backup, gear.

Kembali Blogging

Setelah sekian lama, akhirnya saya kembali menulis di laman blog. Dahulu waktu zaman SMA, karena keterbatasan akses internet dan perangkat, saya tidak mencoba untuk menulis. Waktu itu Aryasta dengan bangga menunjukkan kepada saya bahwa blogging itu mudah, sekarang bahkan kita bisa ngeblog lewat HP (Nokia N70). Kenangnya.

Kini di usia saya yang menginjak angk 28+, bisa dibilang saya punya semua fasilitas yang dibutuhkan untuk menjadi seorang blogger. Cukup dua perangkat sederhana: Android Smart Phone dan Bluetooth keyboard. Kini saya sudah bisa menulis kapan pun dan dimana pun. Environment kerja saya pun angat mendukung, cukuplah sebuah meja dan kursi di kamar mesh 8.3 Santan Terminal, ditambah dengan persediaan paket data 4G dari Telkomsel dan byU. Kesemua nya itu sudah cukup bagi saya untuk bisa menghadirkan pelangan menulis yang ejoyable.

Temukan workflow yang cocok bagimu dalam bekerja, itu hal yang saya pelajari dari Agung Hapsah. Dia fokus mulai menekuni bidang YouTube dari usia belia, butuh proses bagi setiap orang untuk bisa menikmati dan menyukai karya nya. Sama seperti Deddy Corbuzier yang memaparkan Podcast beliau sudah dibangun sejak tahun 2018 lalu, sebelum pandemi Covid-19 melanda. Jadi kesimpulannya tidak ada yang instant, dalam berkarya setiap orang harus menekuni semua proses nya. Untuk senantiasa bisa menemukan workflow dan bisa rutin menciptakan karya yang bermutu.

Cukup sekian dulu pembuka tulisan di blog saya hari ini. Mari kita lanjutkan di posting-posting lain berikutnya. Intinya latih otot-otot jemari agar senantiasa luwes dalam menghasilkan suatu tulisan yang mengalir, mudah dibaca & enjoyable.

Marangkayu, Ahad 20 September 2020.